Jiwa dan Kesehatannya

               Oleh : Framesti Frisma Sriarumtias

 

“Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”

Manusia terdiri dari dua kesatuan utuh, yaitu tubuh dan jiwa. Tubuh berupa fisik yang Nampak dan jiwa yang tersembunyi didalamnya. Jiwa yang merupakan sumber kekuatan manusia. Dimana jiwa mampu memotivasi dan menggerakan raga kita dalam suatu tindakan.

Kesehatan tak hanya dimiliki oleh tubuh saja, tetapi jiwa pun memiliki kesehatnnya sendiri. Jiwa/Ruh apabila tidak sehat dan sudah terganggu akan mempengaruhi tubuh sebagai wadah dari jiwa itu.

Sakit jiwa, istilah ini terdengar tak asing ditelinga kita. Setiap mendengar kata itu orang-orang langsung tertuju dengan penyakit yang menghilangkan sistem kesadaran normal, yang menyebabkan kegilaan atau gangguan jiwa. Seperti orang-orang yang selalu bertelanjang di muka umum, berkeliaran dengan tingkah laku yang tidak wajar, tapi sebenarnya gangguan jiwa tidak hanya seperti itu, keputusasaan pun merupakan salah satu tanda bahwa jiwanya tidak sehat.

Menurut Undang-undang No 3 Tahun 1966 yang dimaksud “Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain”.

Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang serasi dan memperhatikan semua segi-segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia lain.

Orang yang sehat jiwanya senantiasa untuk berfikir positif, merasa nyaman dengan diri sendiri maupun orang lain, menemukan kepuasan dalam hidup dan banyak lagi. Sadarkah kita, tanpa disadari gangguan jiwa ringan setidaknya pernah dialami.

Mahasiswa dengan setumpuk kegiatan yang padat, jadwal kuliah dan seabreg tugas pasti pernah dihinggapi depresi ringan. Bahkan celoteh “depresi” pun semakin gencar tatkala tertimpa masalah baik itu kuliah, organisasi, dan kehidupan sosial lainnya.

Menurut ilmu medis, depresi ialah kondisi dimana menurunnya neurotransmisi akibat kekurangan neurotransmitter di celah sinaps. Ini didukung oleh bukti-bukti klinis yang menunjukkan adanya perbaikan depresi pada pemberian obat-obat golongan SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor) dan trisiklik yang menghambat re-uptake dari neurotransmiter atau pemberian obat MAOI (Mono Amine Oxidasi Inhibitor) yang menghambat katabolisme neurotransmiter oleh enzim monoamin oksidase.

Depesi tak hanya dialami oleh kita sebagai mahasiswa dan orang dewasa, anak-anak pun rentan terkena depresi, karena depresi tidak mengenal siapa saja.

Wanita saat mengalamai Pre Mestrual Syndrom (PMS) pun sering dihinggapi Depresi terutama dua minggu sebelum mestruasi, ini dikarenakan perubahan hormone yang tidak stabil antara hormone estrogen dan progesterone.

Salah satu depresi pada wanita saat PMS yaitu PMS tipe D, dimana terdapat gejala2-gejala depresi, rasa ingin menangis, lemah, bingung, pelupa, dan bahkan terbersit keinginan untuk bunuh diri dan mati. Tetapi menurut penelitian depresi tipe ini jarang terjadi, apalagi yang menyebabkan terjadinya bunuh diri.

Penyebab terjadinya Depresi bisa dari Faktor Biologik, Genetik dan psikososial. Faktor biologi dimana adanya gangguan pada neorotransmitternya dan ketidakseimbangnya at kimiawi dalam otak yang berfungsi mengantarkan komunikasi antar sel saraf yang akan mempengaruhi perasaan, pemikiran serta tingkah-laku. Secara genetic ini berasal dari perkembangan gen yang mempengaruhi perasaan seseorang. Faktor psikososial yaitu factor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan dan interaksi sosialnya. Kurangnya rasa percaya diri, rasa kekecewaan terhadap diri sendiri atau orang lain, ditinggal kan oleh orang yang sangat berarti, masalah yang menimpa secara bertubi-tubi.

Selain Pengaruh diatas, obat-obatan juga bisa menyebabkan terjadinya depresi, yaitu :

  • Obat Sistem Kardiovaskular ( β-Blocker, Prokainamid)
  • Obat Sistem Saraf Pusat ( Barbiturat, Benzodiazepin, Kloral hidrat, Etanol )
  • Obat Hormonal ( Steroid Anabolic, Estrogen, Progestin )
  • Lain-lain ( Narkotika, Interferon, Indometacin )

Gejala seseorang telah mengalami depresi :

  • Perasaan tertekan sepanjang hari bahkan setiap hari.
  • Kehilangan ketertarikan terhadap hal-hal yang menyenangkan atau aktivitas yang biasa dilalui.
  • Berkurangnya berat badan dikarenakan hilangnya nafsu makan.
  • Insomnia dan hipersomnia setiap hari.
  • Kemunduran indera psikomotor.
  • Kelehan dan tidak semangat dalam menjalankan aktivitas.
  • Perasaan tidak berguna dan rasa penyesalan yang berlebih.
  • Tidak bisa atau susah untuk berkonsentrasi yang menyebabkan daya ingat pun menurun.
  • Selalu terbayang keinginan untuk mati atau bunuh diri.

Untuk penanganan secara medis berbagai terapi bisa dilakukan seperti terapi non Farmakologi (Tanpa obat) dan terapi farmakologi (dengan penggunaan obat).

Beberapa terapi non Farmakologi yang sering digunakan :

  • Terapi interpersonal : Berfokus pada hubungan social pasien penderita depresi.
  • Terapi kognitif-behavior : Mengoreksi pikiran negative, perasaan bersalah yang berlebih, dan rasa pesimis.
  • Electroconvulsive Therapy (ECT) : menangani disfungsi kognitif dan disfungsi kardiovaskular.

Terapi denggunaan obat pun bisa digunakan, beberapa obat yang berperan sebagai anti depresan :

  • Anti Depresan Trisiklik (ATS) : efektif dalam mengatasi semua tipe depresi terutama gangguan melankolis yang berat, contoh obatnya : amitripilin, klomipramin, imipramin, nortriptilin.
  • Selective Serotonin re-uptake Inhibitor (SSRI) : memiliki fungsi seperti ATS, pasien yang gagal dengan ATS kemungkinan bisa merespon baik dengn SSRI atau sebaliknya, efek samping yang dihasilkan bisa sedative, antikolinergik dan kardiovaskuler. Contoh obatnya : Flouksetin, Flovuksamin, Paroksetin.
  • MAO Inhibisi : lebih banyak digunakan untuk depresi atypical. Contoh obatnya : Fenelzin, Moklobemid, Tranilisopromin.

Sebelum kita menggunakan obat-obat yang tentunya akan menghasilkan efek samping, sebaiknya kita mencegah timbulnya depresi tingkat parah dengan penanganan permulaan saat muncul gejala depresi.

Penanganan awal terhadap Depresi bisa dimulai dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, menumbuhkan rasa percaya diri, selalu berfikir positif, menjaga kesehatan tubuh, memasok tubuh dengan makanan yang bergizi, cukup istirahat, melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti relaksasi, dan sayangi tubuh dan jiwa kita.

 

*Diolah dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s