Mengenal Negerinya para Dewa

Negeri diatas awan, negeri para dewa, dan banyak lagi panggilan untuk dataran tinggi Dieng. Inilah tujuan utama perjalanan ini, menapaki keindahan dan potongan budaya serta tradisi di Dieng. Karena tidak pernah kesampean untuk menyaksikan “Dieng Culture Festival” ya akhirnya seperti ini datang di bulan-bulan biasa, tanpa bisa menyaksikan pemotongan rambut gimbal.

Pemotongan rambut gimbal, adalah tradisi yang berkaitan dengan mistis dan adat istiadat dari warga Dieng. Pada Dieng Culture Festival dilakukan pemotongan massal rambut anak gimbal serta berbagai macam pertunjukan, dari budaya asli dieng bahkan music dari luar, sebut saja tahun kemarin diadakan Jazz diatas awan. Pertunjukan bertempat dikawasan candi arjuna.

Kami datang pada bulan-bulan biasa tentu saja tidak untuk menyaksikan ritual pemotongan rambut gimbal, tapi untuk menikmati keindahan alam Dieng. Ternyata bukan hanya turis domestic yang tertarik akan kesucian Dieng, di Losmen Bu Jono kami bertemu dengan turis asal Malaysia dan Filipina, mereka sengaja datang untuk menyaksikan keindahan negeri para dewa.

Seperti sudah menjadi agenda rutin, setiap berkunjung ke dieng, para pengunjung disuguhkan untuk menyaksikan sunrise, di Bukit Sikunir. Tingginya sih tidak seberapa, masih sangat normal untuk pendakian, tapi karena suhunya yang luar biasa sedikit membuat nafas tersenggal-senggal. Golden sunrise bukit sikunir, indah, luar biasa. Tapi saat matahari mulai menerangi Nampak lah alam dieng yang sedang berduka. Ternyata tempat kami berdiri menyaksikan sunrise dikelilingi tempat bekas kebakaran hutan.

Golden Sunrise, Bukit Sikunir

Golden Sunrise, Bukit Sikunir

Hitam, berabu, miris memang rumput dan pohon yang seharusnya menghijau berubah hitam. Banyak faktor yang memicu kebakaran hutan, hal yang paling krusial yaitu kemarau, daun yang kering dan panasnya matahari. Selain itu para petani juga berperan disini, pembakaran lading yang akhirnya merembet yang menyebabkan terbakarnya sebagian daerah hutan. Miris.

Bekas kebakaran hutan

Bekas kebakaran hutan

Saya menyaksikan langsung pembakaran ladang, saat pulang dari kawah candradimuka Nampak petani telah membakar sisa ladangnya. Padahal saat itu musim kemarau, angin kencang rentan terjadi rembetan api. Ah kasihan kau tanah para dewa.

Asap dari pembakaran sisa ladang

Asap dari pembakaran sisa ladang

Dieng dahulu merupakan pusat hindu terbesar di Indonesia, tak heran begitu banyak candi yang tercecer dimana-mana. Mulai dari kompeks candi arjuna, candi bima, dan candi drawati yang letaknya terpisah-pisah satu dengan yang lainnya.

Kalau kalian ingin mengetahui sejarah dieng lebih dalam, sangat dianjurkan untuk datang ke museum dan menyaksikan pemutaran film documenter tentang peradaban Dieng. Sangat menarik. Hanya dengan merogoh kocek Rp 2.500, kamu bisa nonton film dan keliling museum tentunya bisa sambil bertanya pada penjaga museum tentang semua benda yang dipajang disana.

Setiap objek wisata di dieng pasti menyimpan cerita, Sumur Jolotundo, lubang besar yang memang mirip sumur dikelilingi tebing yang ditumbuhi semak belukar. Kadang suka mikir jangan-jangan didalem sana ada ular piton kayak di amazon gitu, serem tapi tenang itu hanya imajinasi saja, biasa korban film.

Sumur Jolontundo

Sumur Jolontundo

Legendanya apabila berkunjung kesana wajib melempar batu kedalam sumur, ceritanya biar gak sial. Selain itu ada kawah candradimuka, kawah yang tidak bisa dilalui dengan membawa kendaraan sendiri, akhirnya harus memakai ojek, ya jalan-jalan ke gunung seperti biasa berbatu dan terjal. Legendanya kawah candradimuka salah satu tempat nenek lampir. hihi

Ada hal menarik yang kami alami selama di Dieng, selain diikuti oleh orang tidak dikenal dari kawah candradimuka sampai museum bahkan sampai candi Bima. Akhirnya kawah sikidang kami bertemu dengan satpam, namnya pak ahmad. Beliau mengantar kami jalan-jalan di kawah sikidang, dan mengantarkan kami pulang. Tapi yang paling beruntungnya, beliau mengundang kami di acara rituan pemotongan rambut gimbal sepupu beliau, rezeki. Tentu ini rezeki, tidak semua orang berkunjung ke dieng bisa menyaksikan ritual pemotongan rambut gimbal. Kecuali saat Dieng Culture Festival. Tapi ini lain, keluarga pak ahmad yang bias dibilang keluarga berada menyelenggarakan sendiri pemotongan rambut gimbal.

Tepat setelah shalat magrib kami ditemani mas Dwi (pengurus losmen Bu Jono) mencari rumah saudara pak akhmad. Bermodalkan nama dan pekerjaan pak akhmad tidak susah mencari dimana rumah saudara beliau. Kita dating tidak dengan tangan kosong, tentunya untuk sepupu pak akhmad. Betapa beruntunnya kami saat itu, karena ternyata mas Dwi yang notabene pengurus losmen bu Jono belum pernah menyaksikan ritual pemotongan rambut gimbal. Beruntung kan🙂

Disana kami bertemu keluarga baru, tetangga sepupu pak akhmad mempersilahkan kami masuk dan sekedar ngobrol hangat. Karena saat itu ritual pemotongan rambut gimbal sudah dimulai. Saat ritual telah selesai kami diundang masuk dan disuruh makan, kaget kan dateng-dateng disuruh makan. Tapi ya memang seperti ini tradisinya, disana kami melihat berbagai sesajen. Rambut gimbal yang telah dipotong benar-benar mirip sanggul. Karena memang saat anak mulai tumbuh rambut gimbal, tidak boleh keramas dan disisir, kalo tidak anak tsb bisa sakit. Rambut gimbal tadi kemudian dibuang di telaga warna.

Keluarga baru :)

Keluarga baru🙂

Sedikit bercerita tentang rambut gimbal, tidak semua anak diberi kelebihan rambut gimbal. Hanya anak-anak tertentu. Saat anak mulai terlihat adanya rambut gimbal biasanya ditandai dengan muncul sakit yang tidak biasa. Demam dan tidak sembuh-sembuh, maka saat itu orang tua harus merawat si anak dengan perlakuan spesial, tidak menyisir rambut tersebut. Semakin tumbuh dewasa maka rambut anak gimbal pun pastinya semakin nampak gimbal.

Tumpeng untuk anak gimbal

Tumpeng untuk anak gimbal

Prosesi pemotongan rambut gimbal dilakukan apabila si anak telah meminta dipotong. Selain itu syaratnya saat pemotongan semua keinginan anak harus dipenuhi. Itulah syarat di tradisi ritual pemotongan rambut gimbal. Saat itu sepupu pak akhmad meminta laptop, dan dibelikan laptop mainan. Tidak masalah karena si anak tetap memanggil itu laptop walaupun hanya mainan.

Sesajen (yang kerudung merah sama kuning bukan sesajen ya :p )

Sesajen (yang kerudung merah sama kuning bukan sesajen ya :p )

Kenapa harus rambut gimbal harus dipotong ? karena menurut kepercayaan apabila rambut tersebut dibiarkan tumbuh sampai dewasa akan membawa musibah bagi si anak dan keluarganya. Menurut saudara pak akhmad Rambut gimbal ada dua macam, gimbal kecil-kecil dan gimbal besar. Gimbal kecil-kecil dipercaya dapat membawa kesusahan pada anak dan keluarganya. Sedangkan gimbal ukuran besar akan mendatangkan keberuntungan. Mitosnya seperti itu.

Sampai sini penjelasan sangat singkat tentang Dieng, jangan lupa untuk singgah di Dataran Tinggi Dieng, Negeri para dewa. Gak akan nyesel, serius🙂

Peta objek wisata Dieng dari Losmen Bu Jono

Peta objek wisata Dieng dari Losmen Bu Jono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s