Kala Rasa ini hadir di kaki Gunung Bromo

Kala Rasa ini hadir di kaki Gunung Bromo

Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

Judul : Tetap saja Kusebut (Dia) Cinta

Penulis : Tasaro GK

Tebal : 264 halaman

Tahun terbit : 2003

Penerbit : Qanita PT Mizan Pusaka

 

Cover Novel Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

Cover Novel Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta

Tasaro GK menyatukan kumpulan cerpennya menjadi sebuah novel, yang terdiri dari Puisi, Roman Psikopat, Galeri, Bukan Malaikat Rehat, Tetap Saja Kusebut (Dia)  Cinta, Tuhan Nggak Pernah Iseng, Separuh Mati, Atarih, dan Kangen Ibuk. Cerpen itu tersaji dalam 264 halaman.

Ada yang menarik di buku ini, disetiap cerita disuguhkan gambar yang menarik. Lukisan karya Dredha Gora ini layaknya lukisan, menyimpan rahasia. Setidaknya saat kita bosan melihat rentetan paragraf kita bisa dimanjakan dengan gambar-gambar full color serta warna layout yang menarik disetiap ceritanya. Apabila dilihat dari samping buku ini seperti pelangi.

IMG01093-20140327-0851

Ceritanya beragam, tidak melulu soal cinta, tapi tentang keluarga, bahkan kehidupan sosial. Jagoan cerita yang menjadi judul novel ini yaitu Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta, berkisah tentang sepasang anak manusia yang bertemu di kaki Gunung Brahma.

Seperempat abad yang lalu saat masih kanak-kanak, bermula saat diselamatkan ketika akan jatuh ke kawah Bromo dan sebuah kecupan dikening. Setelah itu hubungan mereka mulai terjalin baik dan sampai sekarang Arumdhati belum mengerti makna dibalik kecupan tanpa bahasa itu. Saat upacara ngrawut jagad digelar, itulah pertemuan terakhir mereka. Beberapa hari setelah ayahnya meninggal Arumdhati diajak oleh seorang mahasiswa untuk bekerja di Yogyakarta.

Mereka datang dari dua kehidupan yang berbeda. Angraka berasal dari keluarga Tengger kaki Bromo yang telah menganut agama Nabi selama beberapa generasi. Sedangkan Arumdhati mewarisi ajaran Hindu Parsi yang hidup di pedalaman Tengger.

Sepuluh tahun yang lalu dia mengunjungi kaki Bromo bertemu dengan ibu Angraka yang sekarang hidup sendirian dalam rumah papan beralaskan alang-alang. Dari ibunya lah terungkap bahwa Angraka pergi ke Surabaya untuk menjadi pelukis, disana dia bertemu dengan seorang gadis. Sejak saat itu hancurlah perasaannya, semua kenangan manis tergambar kembali dan semakin membuat dadanya sesak, semakin membuat air matanya tumpah. Kecupan itu tidak pernah bermakna apapun.

Setelah menerima gaji pertamanya sepuluh tahun yang lalu Angraka masih berdiam dalam pikirannya, rasa itu hanya bisa dia titipkan pada ibunya lewat setiap bingkisan, satu tahun satu bingkisan, satu kebahagiaan.

Disisi lain Angraka yang kini tinggal dipusat Jawa Timur telah bertransformasi menjadi pelukis yang sedang merancang pameran tunggalnya. Sudah banyak lukisan yang dibuat. Dari lukisan itu pula dia menghidupi dirinya dan kini sanggup menyewa rumah untuk studio lukis. Tapi ada satu lukisan yang tak sanggup dia beri judul. Sebuah lukisan yang menggambarkan gunung Bromo, ada kebahagiaan disana, ada kenangan masa kecil, kerinduan yang hanya bisa disalurkan lewat sapuan kuas.

Lukisan Bromo itu merupakan karya istimewa dari Angraka, dari lukisan inilah takdirnya mengiring dia kembali ke kaki Gunung Bromo, rumahnya. Saat Angrara kembali ke Bromo, ladang kenangan. Saat itu juga dia bertemu kembali dengan Arumdhati. Takdir yang mempertemukan mereka. Tak disangka bisikan hati mereka sama, menjelajah kenangan.

IMG01094-20140327-0852

Ibu Angraka meninggal sebulan setelah kedatangan Arumdhati, sepuluh tahun yang lalu. Selama ini bukan Ibunya yang menerima semua bingkisan itu, tapi Angraka sendiri. Setiap ramadhan dia selalu pulang untuk menunggu bingkisan Arumdhati dan berharap dia mengirimkan alamat lengkap tapi tidak pernah ada. Seperti biasa menjelang Ramadhan Angraka pulang untuk menunggu bingkisan Arumdhati, tapi tahun ini Arumdhati tidak bisa mengirimkan hadiah yang dia sukai sehingga dia datang sendiri untuk bertemu Ibu.

Ternyata ibu telah tiada, setiap membuka bingkisan Angraka selalu bercerita seolah-olah ibu ada disana, menceritakan apa yang dia terima. Mereka lama mengobrol, terungkap bahwa gadis yang diceritakan ibu hanya sahabat Angraka, seorang seniman yang selama ini membantu dia sampai bisa seperti sekarang.

Arumdhati melihat lukisan itu, lukisan pertama Angraka yang kebetulan dia bawa. Saat itu juga Angraka menemukan judul untuk lukisannya “Tetap Saja Kusebut Dia…” sambil menoleh ke Arumdhati “….Cinta” selama bertahun-tahun mereka memendam rasa yang sama.

Saat Angraka menyelenggarakan pameran tunggalnya di Surabaya disaat yang sama di Kaki Gunung Brahma, Arumdhati tengah tertawa dengan suara berbahagia, dikelilingi anak-anak tengger yang mengikuti gerakannya menarikan tangan dan kaki.

Begitulah kisah dari cerpen yang menjadi judul dari novel ini. Alur yang maju mundur mungkin akan membingungkan pembaca ketika dia tidak fokus. Serta ending yang kurang jelas bagi sebagian orang akan membingungkan dan membuat bertanya-tanya tentang statement Angraka dan kenyataan akhir ceritanya seperti apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s